14 April 2008

Subkultur Punk Makassar: Kreatifitas Subversif

Oleh: Mh. Nurul Huda (co) dan Syamsurijal Adhan

Kebanyakan orang memandang sebelah mata. Berbagai label miring seperti biang hiruk pikuk dan kekacauan pun kerap melekat pada diri mereka. Tapi komunitas punk yang tersebar di kota Makasar ini tetap bergeming. Kata mereka, punk adalah simbol perlawanan kaum marginal.

Tak sulit rasanya mengenali kaum punker ini. Model kepala berambut jambul ala Mohawk dengan cat warna-warni, kadang dicukur licin ala skin head dengan tatto menghiasi kepala. Bukan hanya itu, wajah dan kepala mereka dihiasi dengan pearcing, tindik dan flug (sejenis tindik tapi lubangnya lebih besar), dan kulit muka, telinga, serta bibir mereka dipenuhi deretan peniti. Penampilan khas inipun masih dilengkapi dengan aksesoris rantai sebesar jari di leher, celana jeans belel, dompet dengan rantai panjang menjuntai, dan tentu saja tatto yang menempel di sekujur tubuh mereka.

Di kota ini, scene punk, demikian komunitas punk Makasar ini menyebut dirinya, hidup berkelompok di sejumlah tempat. Seperti di Sungai Saddang, Losari, Maccini, Karuwisi, dan Ablam. Sebagian di Sungguminasa, Sidrap, Soppeng, Pare-pare dan beberapa tempat lain di luar Makassar. Mereka memang berbeda dari komunitas lain, karena disatukan oleh sebuah kultur yang berbeda pula. Kelompok ini memiliki semacam ritual, kebiasaan, kegiatan rutin atau pertunjukan bersama antar sesama punk yang membuat mereka layak disebut sebagai sebuah subkultur. Di Makasar para punker menyebut segala aktifitasnya ini dengan sebutan “Underground No Control-Makasar”, dan “Underground Karung Beras” bagi para punker di Sidrap, Soppeng dan Pare-pare.

Persepsi keliru

Bagi masyarakat Makasar, komunitas punk sudah tak asing lagi. Namun sayangnya, persepsi tentang punk rupanya banyak diwarnai oleh anggapan keliru. Punk hanya dikenal dari warna musiknya yang keras, dari Sex Pistols, The Clash, hingga The Worst, dengan beberapa lagu mereka yang terdengar sinis seperti If You don’t Want Fuck Me, Fuck Of atau I Wanna be Sick on You.

Coba simak pernyataan salah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi Islam di Makasar ini. “Penampilan mereka hanya sekedar gaya, temporer saja,” ujar Muh Ibnu, sang dosen. Beberapa koleganya juga menandaskan “punk hanya gaya anak muda, mengikuti perkembangan zaman, seperti kami yang dulu menyukai celana boggie atau cut bray”.

Dalam kehidupan sehari-hari persepsi keliru terhadap komunitas punk ini seringkali juga dilengkapi dengan pandangan tak mengenakkan. Penampilan mereka yang apa adanya, berbeda dan bahkan bertentangan dengan kecenderungan umum masyarakat kota yang teratur tapi monoton, tertib tapi seragam, stylis dan macho tapi dikendalikan industri fashion, gaya hidup modern tapi dituntun etika kapitalisme, dan polesan tubuh yang memesona tapi penuh topeng kepalsuan; membuat keberbedaan punk dinilai sebagai pelanggaran norma, pengacau, atau biang keributan. Bukan sekadar “yang lain”, tak jarang keberadaan mereka diawasi aparat keamanan lantara dicurigai berpotensi kriminal.

“Di sini kalau anak-anak punker lagi ramai, sering datang aparat berpakaian sipil, nanya-nanya ada kegiatan apa, kok ramai-ramai,” tutur Uga yang melihat dari perawakan dan sikap orang itu tak diragukan menyerupai petugas intel.

Kreatifitas

Persepsi miring dan cenderung negatif ini jelas tak seluruhnya benar, apalagi bila kita menyelami kehidupan dan prinsip-prinsip hidup yang diyakini komunitas punk. Anggapan Lomba Sultan yang dekan fakultas syariah IAIN Makasar itu, misalnya, bahwa punk lahir dari keluarga yang broken-home, langsung dipatahkan oleh para punker sendiri.

Sebut saja Adi (nama samaran), misalnya. Seorang anak anggota dewan di kota ini yang tumbuh besar dari keluarga cukup baik. Ia bergabung dengan komunitas punker lantaran ia bisa bebas berkreasi dan memperoleh penghargaan lebih dari teman-temannya. “Di sini saya bisa mengembangkan kemampuan menggambar saya, kalau bagus diambil jadi desain baju,” ujarnya.

Bukan hanya sosok Adi, banyak para punker justeru berasal dari keluarga harmonis. Dekat dengan orang-orang tercinta. Bagi mereka menjadi punker menjadi semacam pilihan. Sebuah pilihan untuk berbeda, kadang melawan arus. Agar hidup bermakna dan lebih kaya.

Kreatifitas dan kejujuran. Prinsip inilah rupanya yang dikembangkan oleh para punker Makasar. Adi dan para punker lain juga berupaya mengembangkan kemampuan, berolah kreatifitas. Dari mendesain baju dan kaos, sampai menekuni olah vokal dan jenis musik dalam bermacam-macam grup band. Tercatat ada puluhan band yang kini dikelola oleh komunitas punker. Seperti band Marginal, Accidental Killing, Permen Karet, The Hendriks dan band-band “underground” lainnya.

Karena itu amatlah keliru bila mengelompokkan kaum punker ini ke dalam kelompok anak-anak jalanan, pemalak, biang kekacauan dan bikin huru-hara. Mereka juga bukan anak muda yang sekadar gaya-gayaan atau ikut-ikutan.

Kultur subversi

Sebaliknya, ada kultur yang dibangun atas dasar kesadaran. Busana dan gaya hidup punk bukan hasil rayuan fashion yang memesona, tapi semacam subversi dan ejekan terhadap dunia fashion sendiri. Busana mereka adalah “busana konfrontasi”, dalam istilah Vivien Westwood. Dengan busana, kaum punker berteriak tentang sinisme dan perlawanan.

“Kita mau bilang, fashion itu dunia yang diciptakan. Kita bisa menerima atau menolak,” ujar Budi.

Sebenarnya para punkers inipun menyadari gaya mereka telah dikomodifikasi. Namun kata Killy, seorang punker yang sahabat dekat Budi, hal itu justru menuntut kreatifitas untuk terus menerus memproduksi gaya baru. “Karena tindik dan piercing sudah jadi trand setter, kita bikin lagi belah lidah, mas. Lebih ekstrim,” kata Killy yang seolah hendak menandaskan peran dirinya sebagai produsen budaya.

Ya, sebuah budaya, kultur. Tepatnya, subkultur punk! Sebuah kelompok yang amat berbeda dengan gejala lain di perkotaan. Bukan sebuah gaya hidup yang lahir layaknya hobby. Bukan pula kelompok yang antisosial, individualistik, dan impersonal yang menggejala di kota-kota. Sebaliknya, mereka justru menghalangi laju komodifikasi dan industrialisasi yang membuat manusia teralienasi dari diri dan tubuhnya sendiri. Lirik-lirik lagu, seperti Aparat Keparat, Hate Government, Merdeka tapi Tak Nyata dari kelompok musik Bugs dan lainnya, jelas terdengar mewakili suara perlawanan ini.

Berbeda dengan karakter masyarakat kota, para punker ini justru aktif bergiat dalam bidang sosial.

Budi, salah seorang punker, misalnya, menuturkan setiap bulan Ramadan kelompoknya melakukan buka puasa bersama dengan kalangan lain yang tak mampu dan anak-anak jalanan. Hebatnya lagi, para punker ini pun menggelar pendidikan alternatif. “Sungai Saddang Street School” namanya, sekolah yang diperuntukkan bagi anak jalanan di sekitar Sungai Saddang.

Demikianlah kultur punk, berlawanan dengan asumsi umum, adalah simbol perlawanan, kreatifitas sekaligus kepedulian. Slogan “No Rule, No God, No Master” menjadi bagian ekspresi kultur mereka yang subversif atas kultur komodifikasi dan industrial kota yang kaku dan mengalienasi.

Sayangnya, keluar dari mainstream selalu dipandang aneh, kelainan sosial, kegilaan, bahkan biang kekacauan. [Liputan: Syamsurijal Adhan]

*Dimuat di Harian Fajar Makasar, Rabu, 28 Februari 2007. Hasil kerjasama Yayasan Desantara, LAPAR Makassar dan Harian Fajar Makassar

Sumber : http://nurulhuda.wordpress.com

Bila Perkawinan Punkers Berlangsung ala Adat Bugis

Oleh: Mh. Nurul Huda (co) dan Syamsurijal Adhan

Tak seperti biasanya, siang itu, sebuah upacara perkawinan yang digelar di Teteaji, Sidrap menyedot perhatian warga sekitar. Tak hanya dihadiri para undangan, laki dan perempuan baik dewasa maupun anak-anak pun ikut menyemut di sekitar rumah Uga, sang pengantin perempuan.

Uga, gadis manis di kampung ini, sedang melangsungkan pernikahan dengan seorang pemuda yang amat dicintainya. Budi, nama pria itu. Berwajah ganteng dan bertampang keren. Tapi, bukan keserasian pasangan itu yang memancing antusiasme para warga. Budi adalah seorang punker tulen..

“Warga mau tau, gimana perkawinan seorang punker sejati dengan cewek yang keluarganya teguh memegangi tradisi,” tutur Uga yang keturunan bangsawanan Bugis ini.

Benar. Ketika iringan pengantin datang, warga betul-betul dibuat kagum. Budi tidak menanggalkan atribut dan identitasnya sebagai punker. Piercing dan tindik tetap menghiasi bagian tubuhnya. Tak lupa sepatu bot yang khas membungkus kedua kakinya.

Uniknya, Budi rela membalut tubuhnya dengan pakaian pengantin ala adat kerajaan Bugis. Jas tutup, sarung bugis dan songkok tutup kepala khas Bugis. Ia pun membawa berbagai erang-erang, barang bawaan pengantin laki-laki berisi pakaian perempuan dan cincin kawin yang diletakkan di ujung paruh burung yang terbuat dari kain sarung. Mengiringi sang penganting, beberapa orang tua berpakaian adat. Tapi yang lebih mengundang senyum para warga adalah kehadiran puluhan para punker beratribut lengkap yang ikut mengiringi sang calon pengantin.

“Saya harus bisa negosiasi dengan aturan adat yang penting, tapi bukan berarti identitas itu kita lepas,” ujar Budi menimpali penuturan sang istri.

Apa yang dituturkan Budi bukan sekedar ungkapan retoris. Bagi Budi, perlu pejuangan panjang untuk memperoleh restu calon mertuanya yang teguh memegangi tradisi Bugis. Bahkan katanya perkawinan bisa kandas bila ia tidak pandai-pandai mengambil hati si calon mertua. Maklum, ayah Uga sempat meminta Budi meninggalkan dunia punk yang digelutinya.

“Boleh Pak. Saya akan keluar dari punk tapi saya tidak menjamin bisa memberi makan anak bapak,” ujar Budi setengah menggertak. Setelah berdialog panjang, rupanya orang tua Uga pun mulai mengalah dan menerima Budi apa adanya. “Asal dalam proses perkawinan pengantin laki-laki harus mengikuti beberapa prosesi adat,” ujar Uga menirukan ucapan ayahnya. Akhirnya antara kedua belah pihak pun tercapai kata sepakat.

Keteguhan punker yang tetap berada di luar jalur mainstream ini menarik disimak. Bagi punker macam Budi ini, praktek alienasi bukan hanya oleh kapitalisme industrial, tapi juga belenggu adat. Namun perlawanan itu tidak bisa dilakukan secara frontal. “Kondisi di Jakarta berbeda dengan Makasar-Bugis, adat di sini masih kental. Norma-norma yang membelenggu harus dilawan tapi dengan cara negosiasi,” tandas Killy, seorang punker yang baru dua minggu mudik dari Jakarta ini.

Punk dan tradisi lokal

Strategi perlawanan punker Makasar-Bugis nampak berbeda dengan pemberontakan punk yang selama ini diangkat dalam berbagai tulisan. Pemikir Cultural Studies semacam Hebdige, Hall dan Jeferson lebih banyak mengangkat perlawanan komunitas punk terhadap kelompok kelas menengah-atas. Punk hadir dalam kontradiksinya dengan gaya dan kebiasaan kelas menengah. Rambut klimis tersisir rapi dilawan dengan model mohawk. Tubuh bersih dengan pakaian rapi dilawan dengan tubuh penuh tatto, pearcing, tindik dan pakaian acak-acakan. Musik jaz dan musik klasik dikontraskan dengan musik punk yang hinggar-bingar dengan lirik-lirik sinis. Dengan demikian ada garis batas tegas yang membelah antar kelompok-kelompok sosial ini.

Kondisi berbeda rupanya dihadapi komunitas punk Makasar-Bugis. Mereka tidak sekedar bergumul dengan kapitalisme dan komodifikasi, tapi juga tradisi lokal dimana mereka hidup di dalamnya. Kondisi-kondisi inilah nampaknya yang membuat mereka membangun strategi yang lebih negosiatif dan adaptif ketimbang perlawanan totalnya.

Hal ini terlihat, misalnya, dalam lirik lagu-lagu para punker. Menurut penuturan Malik, seorang punker yang masih tercatat sebagai mahasiswa UIN Alauddin ini, para punker kerap menggunakan lagu-kagu Bugis dalam pertunjukan atau album-album mereka. Namun tentu saja, katanya, lagu-lagu itu berlirik perlawanan dengan diiringi warna musik yang hinggar-bingar.

Mungkin karena kemampuan mereka menempatkan diri ini yang membuat Spart-Toys di Sungguminasa bisa eksis dan bertempat di belakang Balla Lompoa. Bahkan tempat mereka biasa mangkal menjadi bagian dari rumah adat Gowa itu.

Sumber :http://nurulhuda.wordpress.com

04 Februari 2008

Makassar Diskriminasi

Makassar sebagai kota terbesar ke-3 di Indonesia ini perlahan menjelma menjadi kota metropolitan. Dimana gedung-gedung tinggi bertambah tiap tahun, wajah kota yang mempercantik keberadaannya, fasilitas yang semakin memadai, serta keadaan dimana hedonisme dan vandalisme perlahan-lahan menyatu dengan masyarakat. Keadaan tersebut menyertai perkembangan zaman di kota ini yang mengakibatkan kota ini ramai dikunjungi bahkan dijadikan tempat tinggal oleh saudara-saudara kita dari tempat lain khususnya bagian Timur Indonesia seperti Maluku, Papua, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan. Banyak dari mereka yang memilih Makassar sebagai tempat persinggahan, entah mereka hanya mengunjungi ataupun tinggal karena alasan pekerjaan atau pendidikan. Dapat dibuktikan berdasarkan fakta maraknya himpunan mahasiswa dari luar Makassar di kampus-kampus dan pegawai-pegawai imigran yang ditugaskan di kota ini.

Dibalik segala keadaan yang saya sudah deskripsikan di atas, timbul suatu pertanyaan “Apakah mereka yang merantau mendapat perlakuan yang layak di kota tercinta ini????”. Dengan melihat fakta di sekitar bahwa sebagian orang-orang kulit berwarna masih mendapat perlakuan diskriminatif, khususnya orang-orang “berwarna” seperti orang berkulit hitam dan warga keturunan Tionghoa (Cina/Cokin).

Menurut saya wajar saja perilaku diskriminatif berupa rasisme ada di wajah kota Daeng ini, karena perilaku diskriminatif yang lain-lain sudah lebih dulu menghiasi kota ini. Contoh lainnya adalah para waria-waria yang biasa nongkrong di sekitar lapangan Karebosi selalu jadi korban celaan oleh orang-orang yang lewat di sekitar Kawasan Olahraga tersebut, bahkan tak jarang ada salah satu dari mereka yang dilempari batu. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa para banci-banci itu mempersenjatai dirinya dengan busur, badik, dan senjata-senjata khas Makassar lainnya. Begitu-pun dengan rakyat-rakyat kecil yang berpenampilan lusuh diberi label sebagai pencuri, penipu, dll. Apakah seperti ini perilaku-perilaku masyarakat yang didominasi oleh Muslim??? Satu hal yang kita tidak bisa pungkiri bahwa banci juga manusia, dan mereka punya yang namanya perasaan. Belum tentu para diskriminis ANJING itu lebih sempurna (dalam hal kehidupan) daripada banci-banci itu. Buktinya ada banci yang sukses bekerja untuk menopang keluarganya, dan ada pula yang ingin menjadi anggota DPR untuk memperjuangkan hak-hak dan derajat kaumnya di dalam Negara. Huhhh…… Lagi-lagi status sosial!!!!!!!!!!

Tak berbeda dengan perilaku diskriminatif lainnya, rasisme-pun ada di kota Coto ini. Sudah jelas bahwa orang yang berkulit gelap seperti orang-orang Irian, Maluku, dan NTT sering mendapat perlakuan rasis, dengan asumsi bahwa perlakuan rasisme ada di lingkungan sekitar saya. Di dalam kampus tempat saya terjebak dalam institusi pendidikan, banyak orang-orang berkulit gelap yang memburu gelar sarjana di kampus itu. Tetapi masih banyak juga dari mereka-mereka (orang berkulit gelap) yang sering jadi bahan celaan atau mungkin jadi bahan tertawaan oleh mahasiswa tertentu (rasis). Saya juga kurang mengetahui kenapa mahasiswa tertentu itu sering menjadikan orang negro Indonesia sebagai bahan celaan untuk tertawa? Mungkin orang-orang berkulit gelap tersebut terlihat lucu atau bahkan “buruk” di mata mahasiswa rasis tersebut sehingga dijadikan bahan celaan. Ironisnya, masih sedikit Mahasiswa yang ingin berteman dengan mereka (negro Indonesia). Mungkin karena itulah mereka yang berkulit gelap hanya bergaul dengan sesama ras-nya. Hahaha, ternyata kaum yang katanya intelektual itu masih ada yang rasis dengan bangsa sendiri. Mahasiswa... Mahasiswa... Ck...ck...ck...

Lain lagi dengan orang yang berketurunan Cina (Tionghoa), mungkin sebagian besar masyarakat Makassar atau bahkan Indonesia sudah muak dengan ras yang satu ini. Memang tak bisa dipungkiri bahwa ras yang satu ini memang terkenal ulet dan disiplin dalam segala hal, serta sifat yang agak sedikit anti-pribumi. Ada beberapa orang yang mengatakan Cina itu sekke’ (pelit dalam aksen bahasa Makassar), suka pattolo tolo (membodohi dalam aksen bahasa Makassar lagi), dll menurut kacamata mereka masing-masing. Saya sendiri-pun tidak menyukai segelintir ras ini, karena memang ada dari beberapa mereka yang membuat diriku muak. Kenapa?? Karena saya sudah melihat bukti nyata di sekitar lingkungan saya. Mungkin teman-teman sudah pernah mendengar bahwa di Makassar pernah terjadi penjarahan besar-besaran terhadap usaha-usaha yang dimiliki oleh warga keturunan tersebut lantaran ada seseorang dari mereka yang membunuh bocah yang pulang dari mengaji pada tahun 1996, terlibatnya 3 warga keturunan dalam kasus Narkoba pada tahun 2005, tindakan kekerasan terhadap pembantu rumah tangga pada tahun 2006, dan terakhir ditahun 2007 seorang dosen salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar dianiaya oleh beberapa warga keturunan Tionghoa. Itu adalah beberapa kelakuan yang menyimpang dari warga keturunan Tionghoa yang saya ketahui (melalui media massa). Bagaimana kelakuan menyimpang lain yang saya “dan mungkin anda” tidak ketahui???? Apakah anda mengetahui beberapa????

Saya kembali kepada argumen saya di atas, yaitu pernyataan dari beberapa orang yang saya jumpai bahwa warga keturunan Tionghoa itu pelit, dan suka membodohi pribumi. Menurut saya, pendapat seperti itu terlontar karena masyarakat pribumi Makassar berpikir bahwa pelit, dan sifat membodohi itu karena orang Cina menginginkan profit yang banyak di pihaknya. Pendeknya, orang Cina hanya mau untung sendiri (materi) menurut sebagian besar pribumi Makassar. Yang harus kita ketahui pertama-tama yaitu Cina merasa bahwa mereka tidak hidup di tanah nenek moyang yang mengakibatkan tingginya kemampuan bertahan hidup mereka. Oleh karena itulah sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang disiplin, ulet dalam bekerja, dan tegas di segala hal. Kedua, karena faktor yang pertama, sebagian besar Cina hidup sejahtera dan tak sedikit yang hidup mewah sementara fakta yang ada mengakui bahwa sebagian besar Masyarakat Indonesia hidup di dalam lingkaran kemiskinan. Ketika kondisi seperti ini yang terjadi, kemungkinan terjadinya kecemburuan sosial sangat besar. Ketiga, faktor pertama dan kedua mengakibatkan munculnya paradigma baru di Masyarakat bahwa orang Cina itu adalah orang yang ber-ADA, dan mereka dilahirkan sebagai orang kaya dan ber-status sosial tinggi.

Bencong juga Manusia, dan Bencong juga mahkluk Tuhan. Mereka hanya kurang benar dalam memaknai hidup. Oleh karena itu, sungguh keji jika kita merubahnya dengan sejuta caci maki dan beberapa ayunan batu. Rubah dengan pendekatan emosional, sehingga perlahan-lahan orang seperti mereka bisa memaknai hidup lebih berarti.

Hitam dan Putih memang berbeda tetapi warna itu cocok dipadukan dengan warna apapun. Kita dengan orang Hitam juga sama, hanyalah dampak sosial politik yang membuat kita berbeda dengan mereka. Hilangkan rasisme, supaya kita bisa bersatu!! PENULIS SOK NASIONALIS... Bukannya saya Nasionalis. Tetapi dengan persatuan kuat yang kita miliki, kita bisa mewujudkan revolusi menuju masyarakat tanpa penindasan. “Coba bayangkan suatu saat nanti, tak ada lagi orang jadi mangsa kekuasaan” - Marjinal.

Singkirkan paradigma kalau orang Cina itu dilahirkan kaya. Karena kalau orang Cina itu kaya, maka Cina adalah negara terkaya raya di dunia karena mempunyai rakyat yang kaya. Dan singkirkan pula paradigma yang menyatakan kalau orang Cina dilahirkan memilik status sosial yang tinggi. Sebab, di pulau Kalimantan tepatnya di Singkawang, banyak orang Cina yang menjadi pekerja kasar (petani, buruh, dsb.) dan adapun Cina yang hidup dibawah garis kemiskinan, rela menjual anak kandungnya ke Pengusaha Kaya dengan berkedok kawin kontrak.

Hahahahaha...

Beginilah pola pikir masyarakat modern Indonesia setelah 32 Tahun dijajah rejim Fasis Soeharto. “Fasis yang baik adalah Fasis yang mati” – Homicide.

Salam Pembebasan...
Oi...

17 Januari 2008

SEBUAH INTRODUKSI

Kami juga bingung mengatakan bahwa ini adalah sebuah zine atau propaganda ataukah hanya tempat untuk mengeluarkan unek-unek semata. Kami sebut ini sebagai e-zine dengan blogspot sebagai medianya, dan ini hanyalah kumpulan unek-unek kami. Dan kami adalah "KaosKaKi", sebuah komunitas di Makassar yg lebih suka disebut sebagai pemerhati PUNK. Tapi soal masalah sebutan, itu adalah hak anda untuk menyebut kami seperti apa. Perbedaan itu indah...

Kenapa kami memilih nama Ladang Protes Zine karena ini hanyalah sebuah media untuk unek-unek kami seperti yang sudah dikatakan sebelumnya. Dan kami menilai itu sebagai Protes supaya kelihatan lebih "SANGAR" dan mengumpulkannya seperti ladang yang luas... Hahahaha....

Esensi dari e-zine ini sendiri tergantung kepada idealisme kami semua, dan kami adalah orang2 yang mempunyai idealisme yang berubah, dan tentunya itu semua karena faktor eksternal dari pribadi kami masing-masing. Makanya jangan heran kalau di dalam zine ini terdapat cerita fiksi, artikel, interview, sampai laporan tentang sebuah acara (gigs report). Dan kami bebas menentukan apa isi dari zine ini, sebagaimana kami bersifat independen. Dan kami tidak membuat hak cipta untuk semua isi dari e-zine ini, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa hak cipta itu menimbulkan monopoli di dalam kehidupan. Anda berhak mengkopi seluruh artikel ini untuk dijadikan bacaan gratis untuk anak jalanan, newsletter, sampai bacaan atau koleksi anda secara personal.....

Sepertinya kami sudah panjang dalam section 'About-Me'. Kalau ada salah satu dari anda yang mau menjadi kontributor di zine kami, silahkan hubungi e-mail kami yaitu ladangproteszine@gmail.com. Terima Kasih kepada semua orang mencintai perdamaian dan PERSETAN dengan semua orang yang mendukung segala bentuk penindasan.....
SALAM PEMBEBASAN.....
Oi...oi.....

Regards,
Nono, Enda, Tutu, Ale.....